Sejak zaman dahulu
bangsa Indonesia sudah mengenal kehidupan religius yang dijadikan pedoman dalam
bersikap dan berperilaku dalam hidupnya. Hampir setiap kegiatan selalu dilandasi
dengan upacara religius yang bernuansa gaib dalam kegiatan mata pencahariannya,
misalnya adat istiadat perkawinan, tata cara penguburan, selamatan, dan kebiasaan
lainnya. Mereka mematuhi pranata-pranata yang berbau religius dan magis tersebut,
karena mereka beranggapan bahwa apabila terjadi pelanggaran akan mendapat hukuman
dari arwah nenek moyang yang akan menimbulkan bencana terhadap warga
masyarakatnya.
Masuknya pengaruh agama
menyebabkan banyak adat istiadat yang disesuaikan dengan ajaran agama sehingga
tidak terdapat lagi kebiasaan-kebiasaaan dalam melakukan upacara ritual yang
mencelakakan fisiknya. Setelah memasuki era pembangunan ini banyak
tradisi-tradisi yang dikomersialkan menjadi sarana hiburan bagi masyarakatnya ataupun
masayarakat pendatang. Selain itu banyak tradisi-tradisi yang dijadikan salah satu
bentuk atraksi wisata oleh pemerintah daerah sebagai salah satu upaya memperkenalkan
kekayaan budaya bangsa Indonesia.
1.
Tradisi Sejarah Masyarakat di Berbagai
Daerah di Indonesia
a.
Wayang
Fungsi
dan peran wayang sepanjang perjalanan
tidaklah tetap dan tergantung pada kebutuhan manusia.
Pertunjukan wayang pada mulanya merupakan upacara pemujaan arwah nenek
moyang. Wayang merupakan salah satu pertunjukan tradisional warisan
budaya leluhur yang mampu bertahan berabad-abad dan mengalami
perubahan dan perkembangannya sampai mencapai bentuk sekarang ini. Sebelum
pertunjukan wayang dilakukan, terlebih dahulu seorang dalang
mengadakan upacara keagamaan dengan membakar dupa dan memberikan saji.
Gambar 01 : Pertunjukan Wayang
Sumber : Listiyani, Dwi Ari. 2009.
Sejarah 1. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan nasional.
Kesenian wayang sudah menjadi tradisi
bagi masyarakat dalam melaksanakan upacara tertentu dengan menampilkan
lakon/cerita seperti : perkawinan Arjuna, Suyudono, Baratayudha, "Semar
Mbangun Kayangan", "Babat Alas Wanamarto " dan lain-lain. Wayang
mengalami perubahan baik dalam penyajiannya maupun dalan bentuk wayangnya sesuai
dengan pola budaya dan sistem nilai budaya masyarakat pendukungnya. Pada zaman
berkembangnya pengaruh Islam oleh para wali, wayang dijadikan alat untuk
menyebarkan agama Islam. Hal ini menunjukkan bahwa pagelaran wayang sudah
dijadikan media komunikasi.
Untuk menggelar pertunjukan wayang ada
beberapa perlengkapan yang perlu dipersiapkan, antara lain sebagai berikut.
1) Dalang
yaitu orang yang memainkan lakon wayang.
2) Keprak
atau kecrek biasanya dibuat dari kayu atau logam yang akan digerakkan oleh
dalang pada waktu ada keributan dalam peperangan.
3) Blencong
yaitu lampu yang dipergunakan untuk memainkan wayang dan digantungkan di muka
kelir.
4) Kelir
yang dibuat dari mori tempat dalang menancapkan dan memainkan wayang.
5) Gamelan,
terbagi ke dalam tiga bagian, yaitu sebagai berikut.
a. Rebab,
celempung yaitu alat musik pakai senar.
b. Suling
yaitu alat tiup dari bambu atau logam.
c. Gamelan
yaitu alat pukul dari kayu atau logam.
6) Kotak
penyimpan wayang.
Teknologi modern yang semakin mengalami
kemajuan sangat berperan dalam sejarah perkembangan wayang. Penggunaan
alat-alat pengeras suara, sarana radio, televisi, tape recorder, dan piringan
hitam memperlancar perluasan pergelaran wayang sehingga dapat menjangkau khalayak
penggemarnya.
b.
Upacara
Labuhan
Setiap
tahun keluarga besar Keraton Yogyakarta selalu mengadakan upacara
labuhan,
biasanya dilakukan 1 hari setelah penobatan dan pada waktu ulang tahun
penobatan (tinggalan dalem). Upacara labuhan
diselenggarakan di empat tempat:
1)
Parang
Kusumo,
2)
Gunung
Lawu,
3)
Gunung
Merapi, dan
4)
Dlepih.
Gambar 02 : Upacara Labuhan di
Yogyakarta
Sumber
: Listiyani, Dwi Ari. 2009. Sejarah 1. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan
nasional.
Upacara labuhan yaitu upacara
mengirimkan barang-barang dan sesaji ke tempat-tempat
yang dianggap keramat dengan maksud sebagai
penolak bala untuk keselamatan masyarakat. Upacara ini
merupakan adat yang turun temurun sejak Panembahan
Senopati memegang kekuasaan di Mataram. Beliau seorang raja
yang sangat "sakti" dan gemar bertapa. Dengan kesaktiannya
beliau dapat melindungi rakyatnya, mudah berhubungan dengan jin atau
penguasa setempat yang dianggap keramat untuk dapat dimintai pertolongan.
Sebagai imbalannya beliau mempersembahkan sesaji maupun benda-benda
tertentu yang menjadi kesukaan makhluk halus tersebut dalam bentuk
upacara-upacara. Oleh karena itu, sampai
sekarang upacara tersebut dilaksanakan dengan tujuan untuk keselamatan
Sri Sultan dan keluarganya, juga untuk keselamatan rakyatnya.
Jenis sesaji untuk upacara labuhan
terdiri atas: sanggan (setangkap pisang), kinang,
abon-abon terdiri atas bunga mawar, melati, kenanga, dan serbuk kayu,
cendana,
jajan pasar, (pisang, ketimun, salak, roti, jadah, wajik), pala gumantung,
pala
kependem, dan pala kesimpar. Sedangkan untuk keselamatan upacara labuhan
dan
jumenengan terdiri atas: tumpeng yuswo, tumpeng ucok, dahar rasul, lengkap
dengan
lauk pauknya, palagara, bekakak, tumpeng robyong, tumpeng mancawarna, tumpeng
urubing damar, tumpeng kendit atau gelang, tumpeng asrepasrepan, tumpeng
garing, apem alit, rujak rujakan warni pitu, ketan, kolak, apem, dan
lain-lain. Barang-barang yang dilabuh antara lain: kain/sinjang cangkring, semekan
atau pintu solok, gadung melati, gadung jinggo, udorogo, bangun tulak
masing-masing satu lembar, sela (batu), ratus, lisah (minyak), yatra (uang)
tindih dan lain-lain.
Pelaksanaannya
diawali dengan diadakannya upacara sugengan yang diselenggarakan dalam keraton,
setelah kelengkapannya diperiksa, dan setelah mendapat izin dari Sri Sultan
rombongan upacara siap diberangkatkan. Sesampainya di sana rombongan diterima
oleh Bupati Kepala Daerah Tingkat II beserta stafnya yang kemudian diserahkan
kepada juru kunci yang akan memimpin jalannya upacara labuhan.
c.
Upacara
Gerebeg dan Sekaten Keraton Yogyakarta
Gerebeg
(gerbeg atau grebeg berarti desakan/embusan tetapi anggerebeg
berarti
pengawalan terhadap seorang, pembesar yang penting, seorang raja atau
seorang pengantin wanita; gerebegan menampakkan diri pada hari gerebeg
untuk
mengambil bagian di dalam pesta itu). Sri Sultan di Yogyakarta dan Sri
Sunan
di Surakarta menampakkan diri di Sitinggil dikelilingi para pengikutpengikutnya
(punggawa) yang berada di pagelaran untuk memberikan penghormatan kepada
penguasa.
Upacara grebeg dilakukan tiga kali
setiap tahun baik di Keraton Yogyakarta maupun
Keraton Surakarta, yaitu pada hari kelahiran Nabi Muhammad SAW (Gerebeg
Maulud tanggal 12 Mulud), hari Raya Idul Fitri (Gerebeg Pasa) pada
tanggal
1 Syawal setelah umat Islam menjalankan puasa selama satu bulan dan
hari
Idul Adha/Kurban (Gerebeg Besar) pada tanggal 10 besar.
1) Perayaan Sekaten
Perayaan
ini berbentuk pasar malam yang biasanya dimulai 1 atau 2 minggu
sebelum
upacara tradisional Sekaten yang dilangsungkan di alun alun utara
dengan
beraneka ragam macam-macam jajanan, juga ada berbagai pertunjukan,
permainan,
dan pameran yang digelar untuk menghibur masyarakat.
2) Gerebeg
Maulud
Gerebeg Maulud adalah pesta yang diadakan
untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW pada tanggal 12 Rabiul
awal. Dalam memperingati hari kelahiran tersebut ada macam perayaan : (1)
Keramaian Sekaten (pasar malam ), (2) Upacara Sekaten pada tanggal 5 sampai 11
Maulud, Gerebeg Maulud tanggal 12 Mulud.
Gambar 03 : Gunungan diusung keluaar
keraton dalam upacara Grebeg
Sumber : Listiyani, Dwi Ari. 2009.
Sejarah 1. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan nasional.
d.
Tradisi
Hari Raya
Ada
lima macam agama yang diakui oleh pemerintah di Indonesia sampai
dengan
masa akhir pemerintahan Orde Baru, yaitu agama Islam, Protestan, Katholik,
Hindhu, dan Buddha. Ketika Indonesia memasuki era reformasi tahun
1999
maka tradisi, adat istiadat dan juga agama orang-orang Tionghoa yakni
Konghuchu
diakui. Dengan demikian sekarang ini ada enam agama yang diakui pemerintah
Indonesia. Dari keenam agama tersebut terdapat hari penting (hari
raya)
yang selalu dilaksanakan dengan tradisi pola budaya masyarakat setempat,
sehingga
tradisi budaya menghiasi pelaksanaan hari raya tersebut.
Dengan
demikian
dalam pelaksanaan hari raya agama masing-masing mempunyai tata cara
sendiri-sendiri. Tradisi-tradisi tersebut adalah/sebagai berikut.
1) Tradisi Perayaan Lebaran (Idul
Fitri)
Tradisi
perayaan Lebaran (Idul Fitri) bagi
umat yang beragama Islam.
Hari
raya diselenggarakan setelah umat Islam selama satu
bulan penuh menjalankan ibadah puasa. Perayaan lebaran
jatuh pada tanggal 1 Syawal, di mana umat Islam melakukan salat Idul Fitri di
masjid atau di lapangan dan setelah itu melakukan kunjungan ke orang tua,
keluarga, tetangga dan sanak saudara untuk
saling memaafkan.
2) Tradisi
Perayaan Natal
Tradisi perayaan Natal ini dilaksanakan
pada tanggal 25 Desember, setelah umat Kristen (Protestan dan Katholik)
melakukan Ibadat Natal/ Misa Natal di Gereja. Tanggal 25 Desember bagi umat
Kristiani diyakini sebagai hari kelahiran Juru Selamat (penyelamat dunia) yakni
Yesus Kristus (Nabi Isa) yang turun ke dunia untuk menebus dosa-dosa manusia.
3) Tradisi
Perayaan Nyepi (bagi umat Hindu)
Perayaan hari raya Nyepi di Indonesia dilaksanakan
dengan serangkaian upacara yang mempunyai tujuan menjadikan alam semesta
bersih, serasi, selaras, dan seimbang yang disebut memarisudha bumi. Dengan
perayaan ini mengharap dunia terbebas dari malapetaka, kekacauan dan perang
sehingga manusia hidup sejahtera, dan terbebas dari kebodohan dan kemiskinan.
4) Tradisi
Perayaan Waisak
Waisak ialah hari raya umat Buddha yang
biasanya jatuh pada hari purnamasidi (bulan purnama) di bulan Mei. Karena pada
hari tersebut ada tiga peristiwa penting yakni: kelahiran Sang Buddha Gautama, tercapainya
penerangan oleh Sang Budha Gautama dan wafat Sang Budha Gautama. Itulah
sebabnya, Waisak disebut juga Trisuci Waisak.
Menurut tradisi Waisak di Borobudur,
rangkaian upacara biasanya diawali dengan pengambilan api alam di Merapen dan
pengambilan air dari sumber mata air Jumprit untuk disucikan dalam upacara di
Candi Mendut. Upacara dilanjutkan dengan prosesi agung oleh para anggota Sangha
dan umat mulai dari Candi Mendut, menuju Candi Pawon dan diakhiri di Candi
Borobudur tempat upacara suci Waisak diselenggarakan.
5) Tradisi
Perayaan Imlek
Tradisi perayaan Imlek dilakukan oleh
umat Konghuchu (sebagian besar dianut oleh warga keturunan Cina/Tionghoa).
Imlek adalah pergantian tahun menurut kalender Cina, yang dimaksud ialah
pergantian dari musim dingin ke musim semi. Dalam tradisi dan kepercayaan
mereka, Imlek juga berkaitan dengan harapan baru yang lebih baik. Jadi Imlek
tidak sekedar pergantian tahun namun juga perubahan sikap, pergantian rezeki
menuju ke arah kehidupan yang lebih baik.
Berbagai hal yang berkaitan dengan
tradisi perayaan Imlek ialah barongsai, angpau, kue keranjang, lampion, dan
tradisi pay kui (sungkeman).
e.
Adat dan Tata Cara Penguburan
Setiap daerah di Indonesia memiliki adat
dan tata cara penguburan berbedabeda yang mempunyai corak dan ragam
sendiri-sendiri. Hal ini wajar mengingat bangsa Indonesia terdiri atas bermacam-macam
suku bangsa dengan adat-istiadat yang berbeda pula.
Ada berbagai cara penguburan misalnya
jenazah harus dibakar (kremasi), dibiarkan hancur di alam terbuka, disimpan di
gua atau disimpan di bangunan khusus. Ada yang menentukan jenazah harus segera
dikuburkan pada hari kematian, yang diyakini di kalangan pemeluk agama Islam.
Ada juga yang mengharuskan orang menanti berhari-hari atau berminggu-minggu
sebelum jenazah dikuburkan dalam hal ini upacara penguburan terdapat beberapa
tahap. Sambil menunggu tahapan upacara berikutnya jenazah disimpan dalam
ruangan khusus. Dalam upacara itu biasanya disertai dengan pengorbanan sejumlah
hewan ternak sesuai dengan tingkat sosial ekonomi pada masyarakatnya. Adat penguburan
seperti ini dikenal pada suku Nias, Batak, Sumba, dan Toraja.
Gambar 04 : Acara Penguburan Mayat di
Toraja
Sumber : Listiyani, Dwi Ari. 2009.
Sejarah 1. Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan nasional.
Dalam
masyarakat Jawa yang sebagian besar beragama Islam upacara adat kematian dan
penguburan masih diwarnai oleh tata cara Hindhu, Buddha atau kejawen. Sebagian
penduduk yang menganut ajaran Islam Muhammadiyah menghilangkan tata upacara
selain yang diajarkan dalam agama Islam. Namun secara umum tradisi yang berupa
campuran berbagai tata upacara itu masih berlaku.
Seperti
halnya kelahiran dan perkawinan, pada kematian pun tata cara ini diikuti dengan
rangkaian selamatan. Rangkaian upacara tersebut adalah selamatan pada hari
kematian yang disebut hari geblak, selanjutnya diadakan selamatan pada hari
ketiga, seratus sampai hari ke seribu (nyewu). Bagi masyarakat Bali yang
sebagian besar menganut agama Hindu adat upacara kematian dan penguburan sangat
dipengaruhi agama Hindu. Upacara kematian didasari oleh kepercayaan bahwa manusia
yang mati dapat menitis kembali. Untuk mempercepat kesempurnaan jazad orang
yang meninggal, jenazah harus dibakar. Upacara pembakaran mayat tersebut
dinamakan Ngaben. Setelah pembakaran selesai, abu mayat dihanyutkan dalam
sungai atau laut, sedangkan bagi masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah juga
melakukan upacara pembakaran mayat yang dikenal dengan sebutan Tiwah.
f.
Adat
Perkawinan
Pada
dasarnya adat perkawinan suku di Indonesia bertolak dari anggapan
masyarakat
bahwa perkawinan adalah suatu hal yang luhur, bukan sekedar ikatan
antara
seorang laki-laki dan seorang perempuan, tetapi merupakan proses menyatukan
dua keluarga, dan istilah orang Jawa disebut kadang katut. Upacara
perkawinan
dilakukan dengan cara gotong royong. Semua keluarga ikut memberikan sumbangan
demi terselenggaranya upacara perkawinan itu, demikian juga
para tetangga dan kenalan lain. Upacara perkawinan
biasanya dilakukan secara terbuka, yang dihadiri para undangan
dengan maksud untuk memberitahukan kepada masyarakat bahwa kedua
pengantin telah sah menjadi suami istri. Adat dan upacara perkawinan
pada
umumnya diawali dengan tahap perkenalan dilanjutkan dengan meminang.
Setelah
itu, menentukan hari yang baik untuk melangsungkan perkawinan.
Hampir semua urutan
upacara adat perkawinan mengandung pemikiran filsafat dan perlambang tertentu.
Oleh karena itu, kalau ada bagian upacara yang tidak dapat diselenggarakan,
maka harus ada syarat yang menjadi penggantinya. Hal tersebut dimaksudkan agar
kedua mempelai terlindung dari marabahaya.
Gambar 05 : Acara Perkawinan Adat
Manggarai
2. Perkembangan sejarah
setelah mengenal aksara
1) Dalam
bidang pemerintahan
Masyarakat Nusantara yang hidup secara
berkelompok di masa lalu, ternyata mampu berkembang secara dinamis dengan
bentuk kesukuan. Kontak dengan India ternyata membawa pengaruh positif dalam
kehidupan masyarakat terutama dalam pemerintahan. Masyarakat Nusantara yang
semula berbentuk kesukuan, dengan masuknya pengaruh hinduisme ke dalam masyarakat,
mengubah bentuk pemerintahannya menjadi bentuk kerajaan. Kekuasaan raja
diberikan secara turun temurun dan tidak dipilih rakyat sehingga rakyat
menerima saja. Namun, raja yang lemah pasti segera jatuh digantikan raja yang
lebih bijaksana atau lebih kuat.
2) Dalam
bidang budaya
Kita mengetahui bahwa masuknya budaya
India ke Nusantara ternyata memberi semangat bangsa Indonesia untuk berkarya
lebih bagus dan terarah. Bahkan para raja dan penguasa mulai menuliskan
perintah melalui prasasti. Hasil karya budaya Nusantara yang mengagumkan dan memiliki
seni yang tinggi, misalnya, candi Borobudur yang menjadi kebanggaan dunia dan
relief pada dinding candi yang melebihi kehebatan orang India. Misalnya, relief
Ramayana pada candi Prambanan. Begitu juga munculnya seni sastra yang
dihasilkan oleh sastrawan Nusantara seperti cerita Mahabharata dan Ramayana
versi Nusantara kitab Gatotkacasraya yang telah memuat unsur javanisasi.
3)
Dalam bidang sosial
Pranata sosial di zaman Indonesia-Hindu
sudah teratur, sudah ada desa sebagai satu kelompok masyarakat. Penerapan
aturan untuk membina masyarakat sudah ada, kehidupan masyarakatnya bersifat
gotong royong.
4)
Dalam kepercayaan
Nenek moyang yang sudah memiliki kepercayaan asli
(animisme, dinamisme) mulai mengenal agama Hindu dan Buddha. Sehingga, meskipun
telah menyembah Dewa Hindu atau Buddha, mereka tetap bersesaji untuk memuja roh
(sesuai keyakinan animisme dan dinamisme).
Artikel Terkait :
Sumber :
1.
Listiyani, Dwi Ari. 2009. Sejarah 1. Jakarta : Pusat Perbukuan,
Departemen Pendidikan nasional.
2.
Wardaya, 2009. Cakrawala Sejarah 1. Jakarta : Pusat Perbukuan,
Departemen Pendidikan Nasional.





Comments
Post a Comment
Tujuan berkomentar untuk menambah wawasan kita semua.